Angka Kematian Ibu di Jember Menjadi Sorotan Anggota Fraksi PKB Jatim Umi Zahrok

admin

matahationline.com – Guna menekan dan mengurangi jumlah angka kematian Ibu (AKI) saat melahirkan anak yang saat ini masih tingggi di Provinsi Jatim. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jatim mengajak Fatayat Nahdatul Ulama di Jember untuk melakukan penyuluhan dan pencegahan terhadap AKI tersebut. Hal ini disampaikan Hj. Umi Zahrok saat melakukan serap aspirasi atau reses di wilayah gedung PCNU Jember, Rabu (5/5/2021) sore.

Dikatakannya, angka AKI ditingkat Provinsi Jatim sampai saat ini mencapai 3 000 dan untuk ditingkat Kabupaten Jember tahun 2020 ada 61 kasus, dan kematian anak sekitar 300-an. Bojonegoro dengan 28 kasus. Sementara urutan ketiga yakni Malang yakni ada 25 kasus.

“Maka itu semua elemen baik Pemerintah, Ormas seperti Fatayat ini harus hadir ditengah masyarakat untuk melakukan penyuluhan bagaimana proses awal ibu melahirkan, kemudian asupan gizi, memastikan posyandunya aktif, rumah bersalin harus ada yang digunakan untuk mengontrol ibu hamil tersebut,”ujar Hj. Umi Zahrok politisi asal Fraksi PKB Jatim ini.

Menurut Umi, daerah yang paling banyak kasus kematian ibu melahirkan di Jember yakni Kecamatan Wirolegi, Silo, dan Sukorambi. “Tiga kecamatan ini saya nilai penting mendapatkan perhatian,” tegas Umi Zahrok.

Selain itu Politisi asal PKB itu juga meminta agar petugas Puskesmas sering melakukan kontrol terhadap ibu hamil. Begitu juga halnya posyandu dan rumah bersalin harus benar-benar aktif melayani ibu hamil.

Sedangkan untuk daerah terpencil dan pegunungan, Seperti Silo dan Sukorambi, Umi meminta petugas penyuluhan berkolaborasi. Bukan hanya dinas kesehatan saja. Tetapi bisa juga berkolaborasi dengan petugas Kantor Urusan Agama (KUA). Mengingat sekarang KUA memiliki program penyuluhan cara memperbaiki kualitas perempuan agar bisa hidup baik. “Jika emergency pejabat desa lebih cepat menangani,” tuturnya.

Umi Zahrok Anggota Komisi E DPRD Jatim itu menegaskan, menurunkan kematian bayi juga penting karena ketika di dalam rahim bayi kurang vitamin dan kurang gizi. Ibu hamil yang stres juga bisa mempengaruhi kondisi bayi dalam rahim. Apalagi saat ini pandemi covid-19 membuat ibu hamil memikirkan masalah ekonomi, dan kesehatan. “Pandemi covid-19 dikhawatirkan mempengaruhi mental atau organ ibu hamil,” tuturnya.

Terkait tidak meratanya penyebaran dokter spesialis. Umi Zahrok menilai butuh high cost untuk penempatan dokter spesialis di daerah terpencil. Dirinya sudah menyampaikan keluh kesah terkait tidak meratanya dokter spesialis.

“Dokter umum aja dikeluhkan di daerah pinggiran apalagi spesialis. Makanya negara memberi kemudahan praktek atau mempermudah sertifikasi agar dokter spesialis hadir karena harus ada komitmen. Negara menyekolahkan ketika lulus mau ditempatkan dimana saja,” pintanya.

Selain angka kematian ibu, kader Fatayat NU Jember juga mengeluhkan soal pendidikan inklusif karena dianggap sebelah mata. Padahal anak berkebutuhan khusus banyak memiliki kompetensi. Umi Zahrok mencotohkan, ada tuna wicara bisa membatik dan mengelas. Untuk itu, perlu identifikasi kompetensi di semua kalangan difabel. Selanjutnya diperdayakan difabel yang memiliki kompetensi. “Bukan hanya belas  kasihan saja. Tetapi dibantu sehingga memiliki makna kehidupan mereka,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Masa Reses Terbatas, Ketua Fraksi PKB Jatim Minta Konstituen Sampaikan Apirasi Melalui Media Sosial

matahationline.com – Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur Fauzan Fuadi menyampaikan kepada konstituennya bahwa masa agenda reses atau serap aspirasi masyarakat sangat terbatas karena dibatasi oleh peraturan perundang-undangan. Sehingga dirinya tidak bisa menyapa dan mendengarkan keluh kesah aspirasi konstituennya di sebagian wilayah titik yang menjadi dapilnya, Bojonegoro – Tuban. Alasan […]