Menko PM Muhaimin Iskandar: BPJS Sudah Jadi Raksasa, Tapi Tantangan Belum Usai
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menghadiri Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR)/Foto: Dok. Istimewa
Matahationline.com – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menghadiri Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran pendidikan dalam memperkuat ekosistem jaminan sosial nasional.
“Saya merasa bersyukur bisa menyaksikan salah satu tahapan penting dari seluruh perjalanan panjang upaya jaminan sosial nasional. Dimulai dari pengesahan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada tahun 2004, sebagai tonggak awal hadirnya jaminan sosial oleh negara,” ujar Muhaimin, Kamis (14/8/2025).
Ia mengungkapkan keterlibatannya dalam proses panjang pengawalan sistem jaminan sosial tersebut. “Sudah dua dekade saya ikut mengawal proses ini. Dan saya pribadi tidak pernah membayangkan bahwa BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan kini telah menjelma menjadi raksasa asuransi sosial terbesar di dunia,” katanya.
Dalam peluncuran buku dan kajian akademik yang berlangsung dalam acara tersebut, Ketua Umum DPP PKB itu menyatakan bahwa keberhasilan BPJS saat ini bukan hanya dilihat dari cakupannya, tetapi juga dari kekayaan pengetahuan yang telah dihasilkan.
“Kajian dan praktik yang kita lihat hari ini menunjukkan bahwa BPJS telah menjadi lautan ilmu pengetahuan yang membanggakan. Berdasarkan teori dan praktek, kebesaran ini menjadi warisan besar bangsa,” tambahnya.
Ia mencatat bahwa BPJS Ketenagakerjaan bahkan memiliki aset yang melampaui banyak bank nasional. Sementara BPJS Kesehatan telah berhasil menjangkau lebih dari 280 juta peserta.
“Pak Ghufron (Dirut BPJS Kesehatan) sering bercerita bahwa delegasi dari berbagai negara datang ke Indonesia untuk belajar dari sistem kita. Bahkan, kabarnya BPJS Kesehatan tengah dipertimbangkan sebagai calon penerima Nobel karena keberhasilannya,” ungkap Muhaimin dengan nada bangga.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa di tengah kebesaran tersebut, masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi.
“Perubahan zaman sangat cepat. Tantangan jaminan sosial hari ini tidak sama dengan dua tahun lalu. Kita membutuhkan inovasi teknologi, pelayanan yang tanggap, dan tata kelola yang adaptif agar BPJS tetap relevan dan solutif dalam menghadapi masalah ketenagakerjaan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sistem. “Kita ingin BPJS Kesehatan tidak terus mengalami defisit, dan kita semua perlu bekerja sama untuk mencari sistem tata kelola terbaik agar keberadaan BPJS semakin memberi manfaat besar bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Akses Sulit Jadi Alasan Relokasi Puskesmas Bareng, DPRD Kota Malang Janjikan Pengawasan Ketat
DPR RI Dukung Penghapusan Tunggakan BPJS bagi Warga Rentan
DPRD Jatim Kritik Pelaksanaan Program Kesehatan Bergerak di Sumenep, Sebut Banyak Kekurangan
Waspadai Lonjakan Kasus Covid-19, Arzeti Minta Pemerintah Ambil Tindakan Konkret
Arzeti Bilbina Ingatkan Pentingnya Protokol Kesehatan bagi Jemaah Haji
Jarum Bedah Tertinggal di Organ Reproduksi, Ninik Desak Kemenkes Tegakkan Hak Pasien
FPKB DPRD Kota Bekasi Usulkan Insentif Guru Ngaji Lekar Rp500 Ribu per Bulan
Gelar Akpolbang, Cak Imin Minta Kader PKB Ubah Arah Berfikir yang Adaptif
PKB Matangkan Kepemimpinan Daerah lewat Akademi Politik Kebangsaan