Yang Muda Yang Bercinta: Menyoal Maskulinitas di Bawah Tirani Kelas

By Kontributor 21 Jul 2018, 11:58:19 WIBSosial Budaya

Yang Muda Yang Bercinta: Menyoal Maskulinitas di Bawah Tirani Kelas

Keterangan Gambar : ilustrasi


matahationline.com - Dalam filmografi Sjumandjaja, Yang Muda Yang Bercinta adalah karya vital yang kerap terlupakan sejarah. Film yang dirilis tahun 1977 tersebut berada di antara dua periode keemasan Sjumandjaja: tahun 1972-1976 dan 1979-1985. Pada periode pertama, Sjumandjaja menuai pujian kritikus lewat Si Mamad (1973) dan Atheis (1974), dan meraup tiga Piala Citra untuk Laila Majenun (1975) dan Si Doel Anak Modern (1976). Pada periode yang kedua, sutradara lulusan Rusia tersebut menarik perhatian massa lewat Kabut Sutra Ungu (1979) dan R.A. Kartini (1982), serta memboyong dua Piala Citra untuk Budak Nafsu (1983) dan Kerikil-Kerikil Tajam (1984). Wajar kalau kemudian Yang Muda Yang Bercinta kalah pamor. Ia tidak memenangi apa-apa dan tidak terlalu dilirik oleh para kritikus. Kalaupun masih diingat sekarang, itu karena kontroversi yang pernah ditimbulkannya (terkait sensor) dan asosiasinya dengan almarhum WS Rendra.

Membahas Yang Muda Yang Bercinta di jaman sekarang berarti melihat kembali wajah Indonesia tahun 70an. Waktu itu, negeri ini melewati dekade pertamanya di bawah Orde Baru. Perekonomian negara, yang tadinya terpuruk pasca perang kemerdekaan, perlahan-lahan mulai merangkak naik. Titik baliknya ada pada kebijakan pemerintah membuka Indonesia untuk investasi pihak luar. Kas negara pun mendapat pemasukan yang berarti. Tercatat, pendapatan produk domestik bruto naik tiga kali lipat selama periode ini. Konsekuensinya: masyarakat mulai terpetakan dalam kelas-kelas sosial. Di antara kelas-kelas tersebut, ada garis vertikal yang mengijinkan mobilitas sosial dari kaum papa ke golongan berpunya. Syaratnya: sedikit kerja plus koneksi dengan orang-orang di atas sana.

Berlandaskan lanskap sosial-politik jamannya, Sjumandjaja mendesain Yang Muda Yang Bercinta sebagai narasi tentang kegelisahan maskulin. Naratifnya dibangun seputar Sony (WS Rendra), seorang mahasiswa merangkap penyair. Ia berasal dari keluarga priyayi Jawa yang hidup pas-pasan, dan berayahkan seorang pensuinan yang bersahaja. Masalahnya, Sony terlalu panas untuk keluarganya yang adem ayem. Sejak awal film, Sony menunjukkan semangat anak mudanya yang mekar menggelora. Berdiri di depan jendela dan kemudian turun ke halaman kampus, Sony dengan lantang bertanya ke mahasiswa-mahasiswa yang mengerumuninya, “Kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah akan menjadi alat penindasan?”

Pertanyaan Sony justru menjadi pertanyaan yang harus ia jawab sendiri. Pertaruhannya adalah tumbuh kembang Sony, bukan saja sebagai mahasiswa, tapi juga sebagai seorang laki-laki dewasa. Sebagai pemantik perkembangan Sony, Sjumandjaja mengikat emosi protagonisnya pada dua orang penting dalam hidupnya. Mereka adalah Titiek, kekasih Sony yang hamil di penghujung masa kuliahnya, dan Karjo, paman Sony yang kaya dengan cara yang tidak halal. Melalui keduanya, Sony menghadapi konflik moral yang membuncah hingga titik klimaks cerita. Pada titik itulah, Sony harus menentukan pilihan: memperlakukan slogan-slogan progresif dalam sajaknya sebagai kata-kata belaka, atau menerjemahkannya menjadi tindakan nyata demi kebaikan dirinya dan orang-orang di sekitarnya?

Dalam filmografi Sjumandjaja, konflik moral protagonis selalu menjadi titik fokal perkembangan cerita. Protagonis dalam Si Mamad, seorang pegawai kantoran, terbelah antara tetap bekerja secara jujur atau korupsi kecil-kecilan. Masalahnya, istrinya akan melahirkan anaknya yang ketujuh. Santri yang jadi protagonis dalam Atheis bimbang ketika mendapati kompatriotnya yang nihilis selingkuh dengan istrinya. Haruskah ia memaafkan temannya atau justru membunuhnya? Salim Said menyebut trik narratif ini sebagai warisan dari Rusia, tempat Sjumandjaja menimba ilmu tentang sinema. Melalui konflik moral protagonisnya, Sjumandjaja dapat membicarakan kondisi dunia ceritanya, yang tidak lain tidak bukan adalah Indonesia dan segala carut-marutnya.

Dalam Yang Muda Yang Bercinta, konflik moral protagonis membuka wacana tentang maskulinitas dan relasinya dengan kesuksesan finansial. Dunia yang ada di hadapan protagonis adalah struktur sosial yang hanya mengakui maskulinitas sebagai syarat untuk sukses. Maskulinitas dalam kasus ini berarti bersikap agresif tanpa mempertimbangkan moralitas. Pasalnya, semua orang kaya dalam Yang Muda Yang Bercinta adalah laki-laki yang secara moral berada di zona abu-abu. Tolok ukurnya adalah perempuan. Bila seorang laki-laki mengontrol dan memperlakukan perempuan sebagai properti, bisa dipastikan ia kaya atau minimal prospek masa depannya cerah. Sebaliknya, bila seorang laki-laki memilih untuk membebaskan perempuan di sekitarnya untuk punya pilihan, dijamin keuangannya akan selalu pas-pasan.

Sepanjang perkembangan cerita, Sony punya relasi dekat dengan tiga karakter laki-laki. Masing-masing punya wacananya sendiri perihal relasi dengan lawan jenis, dan masing-masing menjadi kemungkinan masa depan yang akan Sony jalani. Ada Alex, teman kuliahnya Sony. Dia anak orang kaya dan punya pacar di mana-mana. Usai mendengar cerita Sony soal pacarnya yang hamil, Alex hanya tertawa dan malah mengajak Sony pergi ke lokalisasi. Lebih dekat lagi dengan Sony, ada bapaknya sendiri. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bapak Sony adalah seorang pensiunan yang bersahaja. Ia jujur dan memperlakukan istrinya selayaknya perempuan terhormat. Konsekuensinya: ia tidak pernah punya cukup uang, suatu fakta yang Sony sikapi dengan muka masam.

Figur terakhir adalah Karjo, paman Sony. Karjo adalah laki-laki paling kontradiktif dalam film ini. Satu adegan menampilkan dia sebagai sosialita perlente, yang menyediakan perempuan bagi para cukong yang berpesta. Profesi inilah yang membuat dia kaya, dan mampu memenuhi segala keinginan Sony. Satu adegan lainnya menunjukkan Karjo di dalam rumahnya, melantunkan sajak puisi di depan foto mantan istrinya. Adegan tersebut membingkai Karjo sebagai laki-laki yang setia pada perempuan yang pernah dinikahinya, atau setidaknya pada imajinya. Ini menarik. Di satu sisi Karjo memuja seorang perempuan dengan kekhidmatan tersendiri, di sisi lain dia menjadikan banyak perempuan sebagai  batu pijakan demi keuntungan pribadi.

Apapun yang Sony pilih nantinya tidak berdampak pada kehidupan cintanya saja, tapi juga perannya sebagai anak muda penerus bangsa. Sebagai seorang mahasiswa vokal, yang selalu berteriak lantang tentang kemacetan perkembangan di Indonesia, Sony jelas memposisikan dirinya sebagai oposisi dari mereka yang berkuasa. Masalahnya, kalau ia tidak mampu memperbaiki krisis dengan kekasihnya, bagaimana bisa ia memperbaiki negerinya? Segala yang sosial pada akhirnya tersemai dari yang personal. Melalui baris puisi “delapan ratus kilo akan kutempuh untuk memelukmu” di akhir film, Sony tidak saja menetapkan pendiriannya, tapi juga mengajak penonton untuk hidup dengan semangat yang sama. Pada titik inilah, Yang Muda Yang Bercinta menjadi penting dalam sejarah sinema Indonesia.

Yang Muda Yang Bercinta | 1977 | Durasi: 127 menit | Sutradara: Sjumandjaja | Produksi: Matari Artis Jaya Film | Negara: Indonesia | Pemain: WS Rendra, Maruli Sitompul, Sukarno M. Noor, Yati Octavia, Nani Widjaya, Ade Irawan, Rudi Salam

Penulis: Adrian Jontan Pasarimbun

Source: cinemapoetica.com



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment