Ulah Belanda Memantik Murka Rakyat Surabaya

By fandra 20 Sep 2017, 09:49:47 WIBSejarah Indonesia

Ulah Belanda Memantik Murka Rakyat Surabaya

Keterangan Gambar : Hotel Oranje atau dikenal juga sebagai Hotel Yamato, kota Surabaya


  • Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.
  • Seorang pemuda Surabaya gugur dikeroyok tentara Belanda di Hotel Yamato.

Insiden Hotel Yamato menjadi pemicu terjadinya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

matahationline.com - Hotel Yamato mulai dikerumuni orang yang tampak murka. Massa yang didominasi kaum muda itu marah karena pada malam harinya, tanggal 19 September 1945, tentara Belanda menaikkan bendera triwarna merah-putih-biru dari lantai paling atas hotel yang terletak di kawasan Tunjungan, Kota Surabaya, tersebut.

Pengibaran bendera itu membuat rakyat Surabaya geram karena Belanda tidak menghargai kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan sebulan lalu. Lagipula, saat itu sedang digalakkan pengibaran bendera Merah-Putih sesuai instruksi sang proklamator, Ir. Sukarno. Namun, justru Belanda dengan seenaknya menaikkan bendera mereka.

Inilah pemicu terjadinya rentetan pertempuran yang berujung pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang terkenal itu.

Kembalinya Belanda ke Surabaya

Orang-orang asing itu sebenarnya baru sehari berada di Surabaya. Tanggal 18 September 1945, Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) yang berisikan tentara Belanda yang dipimpin oleh W.V.Ch Ploegman tiba bersama pasukan Sekutu (Inggris) dan Palang Merah Internasional (Intercross) dari Jakarta.

Mereka tergabung dalam Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI) atau Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran (Batara Richard Hutagalung, Sepuluh November Empat Puluh Lima, 2001:167). Tujuannya untuk mengurusi sisa-sisa prajurit Jepang, juga tentara Belanda yang ditawan, usai kekalahan Dai Nippon dalam Perang Asia Timur Raya. 

Hotel Yamato menjadi markas RAPWI selama bertugas di Surabaya. Hotel ini sudah ada sejak era Hindia Belanda. Dibangun tahun 1910 oleh Sarkies Bersaudara dari Armenia yang terkenal sebagai perintis jaringan hotel di Asia Tenggara. Selain di Surabaya, mereka juga membangun sejumlah hotel di Malaysia, Singapura, dan Myanmar (Nadia H. Wright, Respected Citizens: The History of Armenians in Singapore and Malaysia, 2003).

Nama Yamato digunakan sejak tentara pendudukan Jepang mengusir Belanda dan menguasai wilayah Indonesia, termasuk Surabaya. Sedari didirikan dan selama masa pemerintahan Hindia Belanda, gedung penginapan ini bernama Hotel Oranje. Hingga kini, hotel ini masih berdiri megah dengan nama Hotel Majapahit. 

Belum 24 jam tentara Belanda menempati Hotel Yamato, mereka sudah berulah, yakni dengan menaikkan bendera yang memantik murka kaum muda Surabaya pada 19 September 1945 itu.

 

Pertarungan di Lobi Hotel

Ketika massa semakin membesar, Residen Surabaya, Soedirman, berusaha mencegah terjadinya konflik yang lebih luas dengan mendatangi pihak Belanda ke Hotel Yamato. Ditemani dua pemuda bernama Sidik dan Hariyono, ia membujuk pemimpin tentara Belanda di hotel itu, Ploegman, untuk segera menurunkan bendera yang semalam dinaikkan (R.S. Achmad, Surabaya Bergolak, 1990:13).

Residen Soedirman khawatir, jika massa murka, situasi bisa saja tidak terkendali dan berpotensi besar menimbulkan banyak korban dari rakyat Surabaya. Apalagi di area itu tampak beberapa orang yang memakai seragam jibaku. Mereka ini adalah pemuda Indonesia yang dilatih khusus oleh Jepang untuk menjalankan misi bunuh diri bila diperlukan (Frank Palmos, Surabaya 1945: Sakral Tanahku, 2016:140).

Perundingan berlangsung di lobi hotel. Permintaan Residen Soedirman kepada Ploegman agar bendera Belanda diturunkan justru dijawab dengan ketus. Dalam buku Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan yang disusun oleh Irna Hadi Soewito (1994:28), dituliskan jawaban Ploegman itu:

“Pasukan Sekutu telah memenangkan perang, dan karena Belanda adalah bagian dari Sekutu, maka sudah menjadi haknya mengembalikan pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Kami tidak tahu itu apa!” 

Jelas, ini berarti Belanda memang tidak pernah menganggap kemerdekaan Indonesia dan ingin kembali menguasai bekas wilayah jajahannya itu kendati dengan berlindung di bawah kekuatan Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II. 

Ploegman kemudian meninggalkan ruangan, sementara Residen Soedirman masih bertahan di lobi hotel bersama Sidik dan Hariyono yang tetap setia mengawalnya. Namun, tak lama berselang, Ploegman kembali dengan membawa sepucuk pistol. Perwira Belanda itu mengacungkan senjatanya dan mengancam Residen Soedirman. 

Menyadari keadaan semakin gawat dan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Sidik bertindak cepat dengan menerjang Ploegman dan berusaha merebut pistolnya. Pergumulan seru pun berlangsung.

Ketika Sidik bergulat dengan Ploegman, Hariyono dengan sigap mengamankan Residen Soedirman dan membawanya lari ke luar hotel. Beruntung, saat dan usai perundingan di lobi yang menemui jalan buntu itu, tidak banyak prajurit Belanda yang berada di ruangan.

Sidik yang masih berjibaku melawan Ploegman bisa menyingkirkan pistol lawannya itu. Dalam suatu kesempatan, ia berhasil mencekik leher Ploegman yang akhirnya tewas karena kehabisan nafas. 

Malangnya, Sidik tidak sempat melarikan diri karena orang-orang Belanda lainnya keburu berdatangan ke lobi. Mereka segera mengeroyok Sidik. Arek Suroboyo pemberani itu pun masih melawan dengan mengambil sepeda yang ada di situ sebagai senjata untuk membela diri. 

Situasi yang tidak seimbang itu tentunya tidak menguntungkan bagi Sidik yang kian terdesak. Dengan menggunakan bangkai sepeda sebagai tameng terakhirnya, ia tidak mampu mengelak ketika seorang prajurit Belanda melemparkan belati. Sidik pun ambruk dengan pisau tertancap di badannya (Soewito, 1994:28).
 

Penghinaan Dibalas Penistaan

Sementara itu, situasi di luar hotel semakin riuh. Massa yang datang semakin bergelombang hingga ratusan orang. Melihat Residen Soedirman dan Hariyono berlari ke luar yang mengindikasikan bahwa perundingan tidak menemui kata sepakat, maka beberapa orang pemuda memutuskan naik ke atap hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Setelah lembaran kain triwarna dicopot dari tiangnya, para pemuda Surabaya itu justru kebingungan karena lupa membawa bendera Indonesia sebagai penggantinya. Akhirnya, seorang pemuda merobek bagian bawah bendera Belanda yang berwarna biru sehingga kain itu tinggal menyisakan warna merah dan putih. 

Kain inilah yang kemudian dinaikkan kembali di tiang yang sama. Meskipun compang-camping karena bekas sobekan, sang Merah-Putih akhirnya bisa berkibar di puncak Hotel Yamato (Frank Palmos, 2016:140). Pekik “merdeka” dari massa-pemuda yang mencermati dari bawah terdengar berulangkali mengiringi naiknya bendera berwarna merah dan putih hasil sobekan bendera Belanda.

Peristiwa penyobekan bendera ini tak pelak membuat kubu Belanda marah. Mereka tidak diterima bendera kehormatan dinistakan kendati sebelumnya mereka juga telah menghina dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Gejala perang mulai terasa di Kota Surabaya.

Rangkaian polemik pun terjadi sejak awal Oktober 1945 meskipun masih dalam skala yang belum terlalu besar. Bermula dari ulah Belanda yang dibalas dengan penyobekan bendera oleh kaum muda Surabaya, konflik bersenjata mencapai puncaknya pada 10 November 1945.

Insiden yang dikenal dengan nama Pertempuran 10 November dan dikenang sebagai Hari Pahlawan ini menewaskan puluhan ribu orang dari kedua belah pihak. Peristiwa ini juga menjadi salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi nasional Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

 

Source: https://tirto.id/ulah-belanda-memantik-murka-rakyat-surabaya-cwSD



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment