Tumpang Pitu Diledakkan, Air Banyuwangi Terancam Habis

By 28 Apr 2016, 12:01:12 WIBPemerintahan

Tumpang Pitu Diledakkan, Air Banyuwangi Terancam Habis

Keterangan Gambar : Spanduk penolakan tambang emas Tumpang Pitu di sepanjang jalan Desa Sumberagung, Kecamatan Pasanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Sumberagung merupakan desa yang dijadikan area pertambangan oleh PT BSI. (Foto: Millenium/Nur Laily Indatur)


Banyuwangi, Matahationline - PT Bumi Suksesindo (BSI) melakukan peledakan perdana di area tambang Tumpang Pitu di Plant Site, kemarin, Rabu, 27 April 2016. BSI akan memproduksi emas dan perak secara komersial dengan produksi bijih rata-rata sebesar 3 juta ton per tahun. Produksi tahunan tersebut diperkirakan mengeruk emas hingga 90 ribu ounce dan perak hingga 1 juta ounce.
 
Rosdi Bahtiar Martadi, juru bicara Banyuwangi's Forum for Environmental Learning (BaFFEL), mengatakan penambangan di Tumpang Pitu berdampak terhadap kerusakan lingkungan. Tumpang Pitu tidak pantas dikeruk kekayaan sumber daya alamnya karena termasuk daerah resapan air. "Jika perusahaan diizinkan menambang, kebutuhan air untuk pemurnian emasnya sebesar 2,038 juta liter setiap hari. Itu sangat mengancam masyarakat," kata Rosdi.
 
Dengan air dikuras untuk penambangan, lanjut Rosdi, sangat mengancaman budidaya pertanian dan kebutuhan air masyarakat terutama yang bermukim di sekitar area tambang. Apalagi status Tumpang Pitu yang masih sebagai hutan lindung itu layak dipertahankan. "Karena ada indikasi fauna lindung di dalamnya, yakni macan tutul, yang merupakan endemis Jawa (Panthera pardus melas)," jelasnya.
 
Menteri Zulkifli Hasan yang pada tahun 2013 menurunkan status hutan lindung menjadi hutan produksi, kata Rosdi, merupakan keputusan yang dasarnya tidak jelas dan merugikan. "Tidak sepatutnya Menteri Kehutanan (dulu Zulkifli Hasan) menurunkan status Tumpang Pitu dari hutan lindung ke produksi. Mengingat pepohanan dan hewan di sana masih lestari," kata Rosdi.
 
Rosdi juga menyampaikan jika Jaringan Anti Tamban (Jatam), sebuah lembaga yang fokus ke advokasi tambang, pada 2009 pernah mengkaji jika jumlah tailing Tumpang Pitu sebanyak 2.361 ton per hari.
 
"Jika Buyat yang 2.000 ton per hari saja sudah membuat masalah, apalagi ini. Jika dibanding Buyat, Tumpang Pitu itu 'surplus' 361 ton limbah harian," ujar Rosdi.
 
Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi, Chusnul Khotimah, mengatakan pihaknya justru tidak mengetahui ihwal rencana peledakan perdana area tambang Tumpang Pitu. "Aneh juga saya tidak diberi informasi soal ini," kata Chusnul.
 
Kendati demikian, Chusnul mengatakan izin penambangan yang akan dilakukan PT BSI sudah lengkap. "Semua izin sudah lengkap. Dan untuk Amdal yang berwenang adalah Dinas Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur. Setiap bulan staf dari ESDM Jawa Timur datang ke Banyuwangi untuk melakukan pengawasan," pungkasnya. [hro]


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Zen 28 Apr 2016, 23:32:51 WIB

    Judulnya terlalu berlebihan. Memangnya sumber mata air dibanyuwangi hanya dari bukit tumpang pitu yg kecil dan berada jauh dekat pesisir banyuwangi selatan?

View all comments

Write a comment