The Death of Yuyun

By 05 Mei 2016, 12:07:34 WIBKolom

The Death of Yuyun

Keterangan Gambar : Yuyun bersama ibunya. (Foto: bbc.com)


NAMA saya Yuyun, usia 14 tahun, siswi kelas II SMP 5 Satu Atap di Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu. Tadi di sekolah ada kegiatan pramuka, makanya saya mengenakan seragam warna cokelat.

Seragam pramuka saya mungkin tidak sebersih seragam kalian saat sekolah. Saya hanya gadis desa yang akrab dengan getah pohon dan debu. Meski begitu saya bangga mengenakannya.

Saya juga bangga menjadi siswi, sekolah bersama teman-teman. Bagi saya, belajar adalah bagian dari perjalanan hidup untuk mengenal dunia lebih luas. Mengecap ilmu pengetahuan adalah bekal saya di masa depan.

Kendati hidup di desa, di pelosok pulau Sumatera, saya juga punya cita-cita. Sama seperti anak-anak lainnya. Sama seperti putera-puteri bapak dan ibu lainnya. Bukankah memang itu yang diajarkan, bahwa setiap anak harus menggantungkan cita-citanya setinggi langit?

SIANG itu, sepulang sekolah, udara cukup panas ketika saya melewati areal perkebunan. Hujan memang cukup lama tidak turun. Meski sedikit haus, saya harus segera pulang.

Seperti biasa, saya hanya berjalan kaki, menyusuri depa demi depa jalan desa. Saya ingin segera tiba di rumah, melepaskan lelah setelah berjalan cukup jauh, dan makan siang bersama bapak dan ibu, juga adik.

Tapi di sebuah tikungan, di areal yang cukup sepi, saya berjumpa dengan gerombolan lelaki. Mereka menghampiri saya. Salah satu dari mereka saya kenal cukup baik. Dia adalah kakak kelas di sekolah.

Mereka lantas mengajak saya bergabung duduk di sana, tapi saya menolak. Saya ingin cepat pulang. Saya juga tidak suka dengan bau mulut mereka. Bau alkohol, seperti bau kecoa yang keluar dari got. Saya perhatikan, satu per satu mata mereka juga sudah semerah saga.

Tapi mereka tidak suka ditolak. Satu orang menarik tangan saya dengan kasar. Saya menepisnya. Tiba-tiba dari araah belakang, seorang yang lain menyergap. Membekap mulut saya, menjadikan teriakan saya tidak berarti apa-apa. Saya hampir kehabisan napas.

Kemudian mereka memukul kepala dan tubuh saya dengan keras. Saya terhuyung. Yang lain membawa tali dan mengikat tangan saya. Saya tak berdaya. Sambil terus meronta, saya berusaha melepaskan diri.

Tapi tenaga mereka seperti tenaga benteng. Mereka, yang sebagian juga mengenal saya, memperlakukan saya seperti binatang. Saya dibanting ke tanah, disusupkan di antara rerimbunan pohon.

Lebih dari dua orang dari mereka menarik seragam pramuka saya. Robek. Rok warna cokelat tua saya dikoyak. Saya menjerit, tapi bekapan tangan mereka begitu kuat. Lalu mereka memperkosa saya, satu demi satu, secara bergilir.

Saat itu, di tengah himpitan kebejatan, saya merintih. Dalam hening itu saya hanya bisa pasrah. Di tengah bekapan, mulut saya tidak henti-hentinya memanggil ibu. Dalam hening itu saya bicara kepada diri sendiri, untuk ibu.

"Ibu, inilah puterimu. Dikangkangi gerombolan binatang dengan bau mulut alkohol dan nafsu luber di kepala. Ibu, inilah puterimu yang sedang merintih menahan perih. Perih di tubuh. Perih di hati. Mereka menyiksaku. Mereka merusak kehormatanku. Mereka memukulku dengan tangan dan kayu...

Ibu, inilah puterimu yang engkau lahirkan, yang engkau rawat dan sekolahkan. Diperlakukan dengan bengis, disusupkan di antara ilalang, diikat seperti binatang. Ibu, ini Yuyun puterimu. Yuyun sendirian menghadapi kebuasan iblis yang menjelma manusia. Ibu..."

Tapi mereka terus merobek kemaluan saya, satu demi satu, secara bergilir. Hanya perih yang terasa, yang semakin lama semakin perih. Saya masih mencoba menjerit. Tapi suara sudah habis.

Lalu semuanya menjadi gelap, hanya ada gelap.

(Diolah dari tulisan Lyana Lukito)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment