Selamat Ulang Tahun, Tan Malaka!

By 02 Jun 2016, 14:07:20 WIBKolom

Selamat Ulang Tahun, Tan Malaka!

Keterangan Gambar : Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka. (Karikatur: Istimewa)


KETIKA penanggalan berlabuh di angka 2 Juni, saya selalu ingat Tan Malaka, tokoh sosialis tulen yang jasanya kepada Indonesia begitu berharga. Bersama rakyat, perjuangan Tan melawan penjajahan Belanda, juga Jepang, sama sekali tak dapat diragukan.

Tan adalah tokoh kemerdekaan yang namanya nyaris hilang ditelan bumi. Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897 dengan nama asli Sutan Ibrahim dengan gelar Datuk Tan Malaka.

Tan merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dia adalah salah satu tokoh politik yang berpaham sosialis kala itu. Ia tercatat sebagai pendiri partai PARI pada 1927 dan Partai Murba pada 1948.

Di masa hidupnya, Tan berperan penting dalam dunia pendidikan di negeri ini, dengan mendirikan dan mengajar di sekolah-sekolah di Indonesia. Ia juga berperan penting dalam gerakan pencetusan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
 
Namun pada suatu hari di bulan Februari, Tan justru ditembak mati oleh tentara Indonesia di Desa Selopanggung, Lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
 
Setiap kali mengingat kiprah Tan, saya selalu ingat sebuah peristiwa yang terjadi pada suatu hari di tahun 1925. Saat berada di Tiongkok, ia menulis buku kecil yang berjudul Naar de Republiek (Menuju Republik Indonesia).
 
Dengan buku itu, Tan tercatat sebagai orang pertama yang menggagas berdirinya Republik Indonesia. Gagasan itu bahkan jauh lebih dulu muncul ketimbang pemikiran serupa yang dituliskan Mohammad Hatta dalam Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka): pledoinya di depan Pengadilan Belanda di Den Haag tahun 1928, maupun tulisan Soekarno berjudul, "Menuju Indonesia Merdeka" tahun 1933.
 
Meski begitu, nama Tan kerap dihilangkan dalam penulisan sejarah sehingga sering pula disebut sebagai "Bapak Republik yang Dilupakan." Padahal jasa-jasanya dalam menggerakkan pemuda untuk mengusir penjajah Belanda, juga Jepang, tidak dapat disepelekan. Ia adalah nasionalis tulen dan anti kompromi.
 
Beberapa bulan sebelun wafat, Tan melakukan roadshow dari persembunyiannya di Banten menuju Purwokerto, hingga sampai ke Jombang dan Kediri. Sebelum tiba di Kediri, ia sempat bertemu Mbah Hasyim Asy'ari di Tebuireng dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Syuro Masyumi. Saat itu Tan banyak berdiskusi tentang dinamika pergerakan nasional dengan Mbah Hasyim.
 
Salah satu bukunya yang juga tersohor adalah "Massa Actie" (terbit 1926), diakui terus terang oleh para tokoh pergerakan menjadi inspirasi utama bagi mereka untuk meneguhkan idealismenya dalam mengusir penjajah. Bagi Soekarno, buku itu adalah ilham sekaligus bahan kutipan untuk menyusun Indonesia Menggugat: pledoinya yang akhirnya sangat tersohor itu. Tak ketinggalan, frasa “Indonesia tanah tumpah darahku” dalam lagu Indonesia Raya diakui oleh W.R Supratman diambil dari bagian akhir buku Massa Actie.
 
Dari bukunya yang berjudul "Massa Actie" itu, kita bisa mengatakan Tan Malaka adalah inspirator bagi pemuda-pemuda untuk bergerak secara berkolektif dan "berholopis kuntul baris." Sebab bagi Tan, kemerdekaan itu harus diraih 100 persen. Dan mustahil kemerdekaan dapat terengkuh 100 persen tanpa didahului kolektivitas dan kegotongroyongan seluruh komponen bangsa. Maka, tidak berlebihan jika kita sebut Tan sebagai inspirator revitalisasi semangat #‎HolopisKuntulBaris‬.
 
Selamat ulang tahun, Tan Malaka! Namamu abadi di hati kami. Perjuanganmu senantiasa membara di kepala kami. [hwo]


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment