Refleksi Akhir Tahun 2016; Membaca Data Statistik Ekonomi Makro Jawa Timur

By 30 Des 2016, 12:51:07 WIBEkonomi

Refleksi Akhir Tahun 2016; Membaca Data Statistik Ekonomi Makro Jawa Timur

Keterangan Gambar : Ketua DPRD Jatim Abdul Halim Iskandar. Foto: DPRD Jatim


SURABAYA, Matahati Online - Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh tantangan secara ekonomi. Tidak hanya bagi Jawa Timur, tetapi juga bagi ekonomi nasional maupun serta negara-negara di dunia. Salah satunya disebabkan masih adanya sentimen pelambatan ekonomi global yang dipicu kontraksi ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa. Indikasinya, Amerika Serikat (AS) mengalami pertumbuhan sebesar 0,5 persen (YoY) atau terendah sejak triwulan I tahun 2014 dan perekonomian Uni Eropa tumbuh melambat, yaitu hanya sebesar 1,7 persen (YoY). Sedangkan untuk konteks Indonesia, Bank Indonesia menunjukkan pesimisme untuk capaian ekonomi nasional tahun 2016 dengan merevisi target proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 dari awalnya 5 - 5,4 persen, menjadi 4,9 -5,3 persen.

Kondisi lebih optimis justru ditunjukkan oleh capaian ekonomi makro Provinsi Jawa Timur sepanjang tahun 2016. Sekalipun dibayang-bayangi oleh sentimen negatif di tingkat nasional maupun global, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2016 diestimasikan tetap di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Indikasinya, hingga kuartal III 2016, PDRB Jatim sudah mencapai 5,57 persen tumbuh 0,23 persen dari kondisi tahun 2015, yang mencapai 5,34 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ekonomi daerah Jatim relatif stabil dari turbulensi nasional dan global, atau dalam istilah Suroboyoan ala Pakde Karwo disebut, “nggak sampe remuk.” Sungguh prestasi ini patut disyukuri semua elemen di Jawa Timur.

Akan tetapi ada persoalan klasik yang selalu muncul di balik tingginya pertumbuhan ekonomi, dan hal itu merupakan variabel yang harus terus menerus kita perjuangkan solusinya, baik oleh eksekutif maupun DPRD. Permasalahan itu adalah masih tingginya angka disparitas yang diindikasikan oleh indeks gini ratio yang berada di kisaran 0,42 pada tahun 2015, meningkat dari kondisi tahun 2014 sebesar 0,37. Meski capaian itu menunjukkan tingkat kesenjangan masih pada level sedang, namun pergerakannya patut diwaspadai. Sebab, pertumbuhan yang positif pada PDRB kurang bermakna substantif bagi pemerataan ekonomi jika masih dibarengi dengan melebarnya tingkat kesenjangan gini ratio.

Bayang-bayang disparitas pendapatan per-kapita masyarakat Jatim maupun  kesenjangan antar wilayah di Jawa Timur itu tidak terlepas dari pergeseran struktur perekonomian Jatim beberapa tahun terakhir. Di mana muncul gejala perubahan ekonomi Jatim dari ekonomi sektor basis (tradable) yang mempu menyerap banyak tenaga kerja (padat karya) menuju penguatan sektor nonbasism (non-tradable) yang cenderung hanya padat modal. Salah satu sektor basis yang mengalami kontraksi hebat di Jatim adalah sektor pertanian. Hingga semester I 2016, pertumbuhan sektor pertanian hanya 14,22 persen dengan rasio penyerapan tenaga kerja sebanyak 35,66 persen. Bandingkan dengan pertumbuhan sektor industri manufaktur yang memberi sumbangsih PDRB Jatim sebesar 29,18 persen, padahal serapan tenaga kerjanya hanya 15,00 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor non-tradable (non-basis) tersebut membawa konsekuensi pada meningkatnya angka pengangguran terbuka dan kemiskinan. Data angka pengangguran terbuka di Jatim per triwulan I 2016 mencapai 4,14 persen dan diperkirakan tidak lebih baik capaiannya hingga akhir tahun ini dibandingkan capaian tahun 2015 yang mencapai 4,47 persen. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang strukturnya ditopang oleh sektor non-basis kontraproduktif dengan semangat perekonomian inklusif dan hanya menegaskan ilusi trickle down effect.

Guna memproteksi sektor basis tersebut, DPRD Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah menyepakati pengesahan Raperda tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan pada 17 Juni 2016, yang merupakan kontinuitas kebijakan dari Raperda inisiatif DPRD Jatim tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani di Jawa Timur yang telah disahkan pada tanggal 18 Juni 2015. Harapannya, kedua Perda tersebut menjadi instrumen regulatif untuk mengembalikan kedaulatan sektor basis yang penopang utamanya berasal dari sektor pertanian dan kelautan.

Problem Sosial Politik

Selain persoalan perekonomian, tantangan bidang sosial yang dihadapi Jawa Timur sepanjang 2016 adalah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba. Problem ini tidak hanya terkait dengan kriminalitas, tetapi juga berhubungan dengan ketahanan bangsa. Sebab pertaruhannya adalah masa depan generasi muda Indonesia. Menurut data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim, Jawa Timur masih menduduki peringkat tertinggi kedua se-Indonesia, dengan jumlah pengguna/penyalahguna narkoba mencapai 265.871, dengan total kerugian secara ekonomi diperkirakan sebesar Rp 9,5 triliun per tahun. Yang membuat makin memprihatinkan adalah, kelompok umur penyalahguna narkoba tersebut adalah anak-anak muda yang didominasi oleh kalangan pelajar dan mahasiswa.

Karena itu, dalam konteks pelaksanaan tugas pokok dan fungsi legislatif bersama eksekutif, DPRD Jatim dan Pemerintah Provinsi Jatim telah berhasil menyusun Raperda inisiatif DPRD Jatim tentang Raperda Fasilitasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba (FP3N) yang telah disahkan pada tanggal 07 Nopember 2016 kemarin, sebagai instrumen regulatif penunjang kinerja BNNP Jatim dalam menekan angka peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba di Jawa Timur.

Akhirnya, menghadapi peluang dan tantangan tahun 2017, yang diperlukan adalah kebersamaan dan gotong royong dari seluruh stakeholders di Jawa Timur. Sebagaimana disampaikan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945, bahwa gotong-royong adalah gambaran satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, satu gawe. Pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama. Semoga tahun depan, Jawa Timur semakin adil dan makmur.

 

Penulis | A. Halim Iskandar | Ketua DPRD Jawa Timur

Dimuat | Koran SINDO | Jum'at, 30 Desember 2016



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment