Prof Masdar Hilmy: Pemberantasan Radikalisme Harus Dipimpin Presiden

By 07 Apr 2016, 10:37:48 WIBPemerintahan

Prof Masdar Hilmy: Pemberantasan Radikalisme Harus Dipimpin Presiden

Keterangan Gambar : Prof. Masdar Hilmy saat dikukuhkan sebagai guru besar ilmu Sosiologi di di Gedung Gelanggang Mahasiswa UINSA Surabaya, Rabu (6/4). (Foto: Multazam Dzikri)


Surabaya - Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Prof Masdar Hilmy SAg MA PhD menyatakan Presiden harus menjadi komando pemberantasan radikalisme. Hal itu dianggap penting dilakukan mengingat gerakan radikalisme yang semakin sering muncul ke permukaan.
 
"Yang saya amati permasalahan radikalisme ini semakin tahun semakin meningkat. Sebab itu Presiden perlu menjadikan Densus 88 dan BNPT menjadi lembaga yang langsung dinaunginya," katanya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi di Gedung Gelanggang Mahasiswa UINSA Surabaya, Rabu (6/4).

Kendati demikian, Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UINSA tersebut memaparkan pemberantasan radikalisme tidak dapat dilakukan dengan kekerasan, melainkan harus melalui pendekatan struktural di bidang ekonomi, budaya dan politik. Cara ini dinilai ampuh untuk segera dilakukan.

"Misalnya, pendekatan itu bisa dilakukan dengan memperbanyak penelitian tentang radikalisme menggunakan teori modus produktif pada bidang politik, budaya dan ekonomi. Sebab pada bidang inilah masyarakat kerap didekati," katanya.

Guru besar ke-50 UINSA itu menjelaskan, belakangan ini gerakan radikalisme lebih sering mempengaruhi mahasiswa dari universitas umum dengan jurusan eksakta seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi (MIPA) dan pertanian.

"Mahasiswa Eksakta di universitas umum lebih mengandalkan ilmu logika dalam setiap memutuskan segala hal. Kalau UIN yang sudah sering diberi wawasan tentang madzab dalam Islam maka mereka lebih bisa mengambil keputusan terkait dengan tawaran bergabung gerakan radikalisme," katanya.

Terkait dengan mengapa mahasiswa dijadikan target gerakan radikalisme, Masdar menilai mahasaiswa merupakan pihak yang rawan dipengaruhi emosinya yang di dalam kampus kurang mendapatkan perhatian dalam aktualisasi pemikirannya. "Gerakan radikalisme yang lebih sering ditujukan pada mahasiswa itu sering terjadi pemberontakan dalam diri untuk memenuhi kebutuhan dan tidak stabilnya emosi mahasiswa," jelasnya.

Ketua DPRD Jatim H Abdul Halim Iskandar (Pak Halim) yang turut hadir dalam pengukuhan itu menyampaikan, pengukuhan Guru Besar UINSA tersebut merupakan wawasan baru tentang radikalisme. Pak Halim menilai peneliatan yang sama dapat dikembangkan dan menginspirasi bagi peneliti lainnya.
 
"Acara pengukuhan Guru Besar Prof Masdar dengan mengangkat judul radikalisme itu mengingatkan kita lagi tentang bahaya radikalisme. Ini penelitian yang bagus untuk kemudian dikembangkan dan disebar-luaskan," pungkas Pak Halim. (antara/hw)


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment