Politisi Instan Bermental Duafa

By Kontributor 27 Jan 2018, 14:12:35 WIBPolitik

Politisi Instan Bermental Duafa

Keterangan Gambar : Ahmad Syafii Maarif


Slemen, matahationline.com – Politisi instan bermental duafa, mungkin itu ungkapan yang ingin disampaikan oleh Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii dalam menggabarkan realitas perilaku politisi saat ini yang cenderung berperilaku korup.

“Indonesia minim negarawan dan berjibun politisi instan. Mental mereka korup dan itu mental dhuafa,” kata Buya Syafii dalam pidato kebudayaan bertema Tradisi Kebangsaan untuk merayakan 1 tahun Sanggar Maos Tradisi di Sleman, dilansir tempo.co (27/1/2018).

Mental korup tersebut disebabkan karena minimnya literasi yang dimiliki politisi instan. Sehingga banyak politisi menjadikan politik sebagai mata mencarian. Karena itu, ia berpesan untuk tidak terjuk kepolitik sebelum kondisi rumah tangganya sudah mapan secara ekonomi.

Ihwal politisi instan miskin literasi itu, kata dia, muncul buah dari nilai-nilai demokrasi yang mati suri. Demokrasi dibunuh sejak demokrasi terpimpin era Presiden Soekarno hingga muncul reformasi. Hasilnya adalah tidak adanya pemimpin alternatif, politisi instan yang tidak siap, dan jauh dari sikap negarawan.

Dia menggambarkan suasana politik Indonesia yang kumuh dan ketimpangan sosial yang tajam. Segelintir pengusaha besar menikmati kekayaan dengan aset miliaran rupiah. Para politisi, kata Buya Syafii, tidak menjalankan pedoman negara, sila kelima Pancasila yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila dan Undang-Undang Dasar selama ini hanya dipakai sebagai slogan dalam upacara.

Ia berpesan kepada politisi agar kembali membaca literatur sejarah Indonesia. Perlu usaha keras dan kesabaran membaca literatur sejarah secara berulang-ulang. Dia mencontohkan tokoh politik Indonesia yang punya idealisme, seperti Agus Salim, Sukarno, dan Hatta. Agus Salim yang membawa idealisme sepanjang hidupnya menderita hingga ajal menjemputnya. Bung Karno orator terbesar abad 20.

Para pendiri bangsa, seperti Agus Salim, Sukarno, Hatta melahap buku-buku sejarah dan tokoh-tokoh penting. Sukarno dan Hatta misalnya membaca dengan tekun tentang sosialisme dan liberalisme. Ia menyarankan kalangan muda untuk mau membaca buku di era banjir media sosial untuk memahami nilai-nilai filosofis. “Baca kembali Tan Malaka, pemikirannya Hatta, Ali Sastroamidjojo, dan Sutan Syahrir. Jadilah intelektual dan aktivis yang membumi,” katanya.

 

Source: tempo.co



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment