Politisasi Persoalan Tenaga Kerja Asing Tidak Produktif

By Kontributor 27 Apr 2018, 16:16:42 WIBKetenagakerjaan

Politisasi Persoalan Tenaga Kerja Asing Tidak Produktif

Keterangan Gambar : Dialog Ketenagakerjaan Indonesia


Jakarta, matahationline.com - Politisasi isu Tenaga Kerja Asing (TKA) teruatama pekerja dari Tiongkok sangat disayangkan. Hal ini karena tidak memiliki basis argument yang jelas dan  bertentangan dengan fakta-fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan. Inilah benang merah dari diskusi ketenaga kerjaan yang diadakan oleh Lembaga Kajian dan Pemberdyaan Masyarakat (Lekat) pada hari Jumat, 27 April di kafe Demang Sarinah Jakarta.

“Saat ini kita telah berada dalam era Asean Free Trade Area (AFTA) sejak tahun 2015 yang lalu. Para pemimpin negara-negara ASEAN telah sepakat untuk mentransformasi wilayah ASEAN menjadi kawasan bebas aliran barang, jasa, investasi, permodalan, dan tenaga kerja. Hal ini melahirkan peluang dan tantangan sekaligus,” ujar Direktur Lekat, Abdul Fatah mengawali pemaparan dalam diskusi yang mengambil tema Darurat TKA, Fakta Atau Realitas?

Fatah menyampaikan, jika Fenomena Globalisasai, barang, jasa, uang dan tenaga kerja merupakan fenomena yang biasa terjadi di era modern. Menurutnya, Sebuah bangsa tidak akan kehilangan identitas dan jatidirinya karena menjadi bangsa yang terbuka.

Ia kemudian memberikan contoh analogi perkembangan globalisasi yang sudah banyak dipahami masyarakat modern, dengan beberapa pertanyaan. “China menguasai surat utang Amerika US$ 1.15 Trilyun. Apakah otamatis Amerika dicaplok oleh China? Tidak. Arab investasi di China 870 Triliyun. Apakah rakyat China terkencing-kecing merasa dijajah oleh Arab? Tidak. Amerika Investasi 122 Triliyun ke Singapore, apakah warga Singapore otamatis jadi antek asing ? Tidak. Sebanyak 252.000 TKI bekerja di Taiwan. Apakah rakyat Taiwan merasa dijajah Indonesia ? Tidak. Jumlah TKI yang bekerja di China 81.000, sementara TKI di Hongkong 153.0 00, di Macau 16.000, apakah rakyat China, Hongkong dan Macau merasa di jajah oleh Indonesia ? tentu tidak,” ungkap Fatah sambil memberikan contoh pemahaman sederhana.

Lebih lanjut, Fatah membeberkan data-data jumlah TKA di Indonesia. Ia menyebutkan TKA yang bekerja di Indonesia sebanyak 74.183 orang, 21.271 ribu di antaranya berasal dari China, disusul Jepang dan lain-lain. “Tapi sebagian dari kita sudah terkencing-kencing merasa dijajah oleh China. Mengapa rakyat negara-negara dimana TKI kita berkerja tersebut bisa bernalar dengan benar? Karena mereka bisa membedakan antara bisnis dengan kedaulatan negara. Dunia abad XXI tidak dipetakan lagi oleh suku, ras dan agama. Masyarakat modern sudah tidak mempermasalahkan lagi perbedaan keyakinan. Mereka bersama-sama membangun peradaban’ Ujaarnya menambahkan,” katanya.

Senada dengan Fatah, peneliti muda dari Paramadina Public Policies, M. Ihsan juga manyampaikan bahwa; Tenaga Kerja Asing dibutuhkan di Indonesia untuk alih teknologi. Hampir semua negara yang melakukan investasi menyertakan tenga-tenaga handalnya untuk mengoperasionalkan alat-alat berat atau untuk mengawal investasi yang dilakukan. “Hal tersebut merupakan fenomena yang wajar. Tidak terkecuali dengan tenaga kerja dari Tiongkok,” Ujarnya

Sementara itu, berdasarkan data 2017, jumlah TKA yang bekerja di Indonesia sebanyak 85.974 orang. Jika  dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, berarti masih kurang dari 0,1 %. “Jumlah Tenaga Kerja dari Tiongkok yang di Indonesia ada 24.000 orang. Angka tersebut terhitung relayif kecil jika dibandingkan dnegan jumlah Tenaga Kerja Asing secara keseluruhan yang mencapai 160.000,” terangnya.[PAC]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment