PKB Tolak Kenaikan Cukai Rokok 23% karena Rugikan Petani dan Karyawan

By Kontributor 22 Sep 2019, 17:39:19 WIBEkonomi

PKB Tolak Kenaikan Cukai Rokok 23% karena Rugikan Petani dan Karyawan

Keterangan Gambar : Ketua DPP PKB Dita Indah Sari saat ditemui awak media usai dialog bersama karyawan dan pelaku industri hasil tembakau


Surabaya, matahationline.com – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyatakan sikap menolak atas rencana Kementerian Keuangan untuk menaikkan cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran rokok sebesar 35%. PKB menolak karena kenaikan tersebut akan berdampak pada nasib karyakan dan juga nasib petani rokok.

Ketua DPP PKB Bidang Tenagakerjaan dan Migran Dita Indah Sari mengatakan bahwa kebijakan Kementerian Keuangan yang akan diberlakukan pada tahun 2020 itu diprediksi akan menekan jumlah konsumsi dan menggerus jumlah volume pruduksi. “Saya kira kenaikan cukai rokok sebesar itu bukan solusi. Dampaknya, petani tembakau dan buruh pabrikan rokok akan menanggung akibatnya,” ungkapnya saat berdialog dengan pelaku industri rokok dan karyawan rokok di Sedati Sidoarjo, Minggu (22/9/2019).

Berdasarkan data, Industri Hasil Tembakau (IHT) mampu menyerap sekitar 7 juta tenaga kerja secara langsung. Selain itu, keterkaitan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor lain seperti pedagang eceran sebanyak 2,9 juta, 1,6 juta petani cengkeh, 2,3 juta petani tembakau dan 150 buruh pabrik rokok. Jumlah tersebut kemudian yang akan mendapat dampak langsung dari kenaikan cukai rokok. Salah satu dampak negatif dari kenaikan cukai adalah pengurangan jumlah produksi dan berimplikasi pada pengurangan jumlah tenaga kerja.

Karena itu, ia meminta pemerintah untuk mempertimbangkan rencana kenaikkan cukai rokok yang berdampak secara sistemik terhadap petani tembakau dan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam industri hasil tembakau.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur Anik Maslachah yang juga hadir dalam acara tersebut. Ia menolak kenaikan cukai rokok sebesar 23% karena yang dirugikan pekerja yang bekerja di industri tembakau. tidak tanggung-tanggung, jumlah tenaga kerja Jatim yang bekerja di industri hasil tembakau sebesar 5,9 juta dari 7 juta total seluruh Indonesia. Bahkan ada 1,7 juta petani tembakau Jawa Timur yang akan menerima dampak negatif dari kenaikan cukai rokok tersebut.

“Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, 20 daerah diantaranya adalah berpenduduk dengan profesi sebagai petani tembakau. Karena itu kita menolak kenaikan cukai rokok 23%,” katanya.

Namun, jika kenaikan cukai itu tidak bisa dihindari, ia meminta kenaikan tidak sampai 20 persen. Besaran kenaikan cukai rokok setidaknya mengikuti kenaikan ditahun-tahun sebelumnya. “Jika tidak bisa dihindari, kenaikan cukai rokok itu setidaknya 12-15%, jangan lebih dari itu,” ujarnya.

Ia lantas meminta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa untuk menyuarakan aspirasi para pekerja industri tembakau yang totalnya jutaan itu kepada pemerintah pusat terkait penolakan kenaikan cukai rokok. Pressure dari gubernur berdampak pada nasib para petani dan pekerja industri tembakau Jawa Timur.[cq]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment