PKB Diskusikan SARA, Radikalisme dan Prospek Ekonomi 2017

By Kontributor 24 Jan 2017, 15:57:04 WIBEkonomi

PKB Diskusikan SARA, Radikalisme dan Prospek Ekonomi 2017

Keterangan Gambar : Diskusi SARA, Radikalisme dan Prospek Ekonomi 2017. Foto: Kemnaker


JAKARTA, Matahati Online - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri menjadi salah satu pembicara dalam diskusi Panel Bertema “SARA, Radikalisme dan Prospek Ekonomi 2017”, Senin (23/1/2017), di Graha CIMB Niaga, Jakarta. 

Hadir Pula pada diskusi tersebut Ketua Umum PKB Sekaligus Menaker Periode 2009-2014 Muhaimin Iskandar. 

“Warga NU yang merupakan Silent Majority di Indonesia tidak akan memberikan tempat untuk SARA dan Radikalisme” kata Muhaimin Iskandar setelah membuka diskusi tersebut.

Kemudian terkait dengan isu serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia, Menteri Hanif mengatakan isu tersebut (TKA) berkaitan dengan isu SARA.

“Isu TKA Bersinggungan dengan SARA Sehingga Sengaja Dibesar-Besarkan, padahal pada 2011 jumlah TKA 77 Ribu lebih banyak dari pada 2016. Jumlah TKA 74 Ribu. Tapi pada 2011 tidak Ribut.” kata Hanif. 

“TKA ada, faktanya ada, realitanya ada, peristiwanya ada, tapi tidak seheboh yang diberitakan. Isu TKA dibesar-besarkan sehingga bertendensi menimbulkan isu SARA dalam konteks politik kita. “Isu TKA lebih pada provokasi. Kita harus lawan politisasi Isu tertentu yang dikaitkan dengan Isu SARA.” lanjut Hanif. 

Kemudian menurut Hanif, total angkatan kerja 125 Juta. Sekitar 60% Lulusan SD-SMP. 7 Juta Pengangguran, 4 Juta diantaranya berusia 15-24 Tahun.

“Golongan ini rentan dari sisi ekonomi sehingga rentan dipengaruhi dengan isu-isu SARA. Ini relevan dengan pelaku terorisme yang rata-rata usianya antara 18-32 Tahun.” jelas Hanif. 

Oleh karena itu, Kemnaker neng-handle isu Ini dengan akses dan mutu pelatihan kerja agar orang punya skill dan bisa masuk ke pasar kerja.

“Kita harus menjaga dan merawat Kebhinekaan dan menjadikannya sebagai potensi untuk Maju. Cara pandang agama Islam yang lebih moderat dan toleran harus kita gelorakan di jalangan anak-anak muda.” kata Hanif. 

Menaker menambahkan, selama ini sektor pendidikan di Indonesia lebih terfokus pada sektor formal. Padahal, permasalahan tenaga kerja bukan hanya soal ketersediaan lapangan pekerjaan, namun bagaimana meningkatkan pelatihan bagi tenaga kerja.

“Penduduk China 1,4 miliar, tapi mereka punya perguruan tinggi 2.000. Di Indonesia, penduduk 255 juta, perguruan tinggi kita 4.000. Dua kali lipat. Maka dari itu, kami akan meningkatkan mutu pelatihan, agar mereka (tenaga kerja) punya skill,” pungkasnya.

“Untuk Itu Saya Meminta Agar Kita Jangan memainkan Isu-Isu yang terkait dengan SARA.” tutup Hanafi.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment