Peringati Harlah, PC Ansor Sumenep Bedah Buku Baddrut Tamam

By 03 Apr 2016, 14:46:12 WIBSosial Budaya

Peringati Harlah, PC Ansor Sumenep Bedah Buku Baddrut Tamam

Keterangan Gambar : H. Baddrut Tamam, S.Psi (kedua dari kiri) ketika memaparkan bukunya yang berjudul "Pesantren, Nalar dan Tradisi: Geliat Santri Menghadapi ISIS dan Transnasionalisme Islam" di Sumenep, kemarin (2/4). (Foto: Abdus Salam).


Sumenep — Sebagai bagian dari rangkaian peringatan harlah ke-82 GP Ansor, PC Ansor Sumenep menggelar kegiatan bedah buku berujudul “Pesantren, Nalar dan Tradisi: Geliat Santri Menghadapi ISIS dan Transnasionalisme Islam” karya H. Baddrut Tamam, S.Psi, di Aula KPRI Sumenep, kemarin (2/4).
 
Selain dihadiri langsung oleh Ra Baddrut, panggilan akrab penulis buku itu, event tersebut juga menghadirkan Ketua PC NU Sumenep KH. Panji Taufiq dan Dr. Rahbini, M.Pd sebagai pembedah. Sedangkan dari kalangan peserta, diskusi tersebut dipadati oleh ratusan kader NU dan Ansor, termasuk Dulsiam, ketua Fraksi PKB Sumenep dan HM. Risnawi, anggota DPRD Kabupaten Sumenep.
 
Dalam sambutan pembukaan acara, ketua PC Ansor Sumenep, M. Muhri mengatakan, perhelatan bedah buku tersebut merupakan ikhtiar PC Ansor Sumenep untuk lebih memperkaya kahzanah pengetahuan kader-kader muda NU, khusunya yang berkaitan dengan pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia.
 
"Kami sangat berterima kasih kepada seluruh undangan yang hadir. Hal ini menandakan bahwa kita masih bersemangat untuk belajar dan terus belajar, khususnya yang berkaitan dengan dunia pesentren. Pesantren selama ini sudah memberi banyak kontribusi terhadap pembentukan sistem politik, ekonomi, sosial dan pendidikan, maupun revolusi kemerdekaan Indonesia," kata M. Muhri.
 
Sementara itu, KH Panji Taufiq yang didaulat membuka acara memyampaikan apresiasi dan rasa kagum yang luar biasa kepada H.Baddrut Tamam sebagai kader muda NU dan sebagai aggota DPRD Jatim masih menyempatkan diri menulis buku yang kaya dengan nilai-nilai ilmiah.
 
"Saya sangat tidak menyangka seorang politisi masih bisa dan sempat menulis dan tulisiannya sangat briliyan sekali. Ini perlu ditiru oleh kita semua untuk tetap melestarikan tradisi literasi dikalangan NU," ujarnya.
 
Dalam pemaparannya, Ra Baddrut menjelaskan, tujuan menulis buku ini setidaknya didasarkan pada peran pesantren berbasis NU saat ini yang mengalami proses genosida (pembumihangusan) dalam banyak aspek di negeri ini. “Mulai dari aspek sejarah, kontribusi dan eksistensi, seolah-olah NU dan pesantrennya dianggap hanya punya andil kecil bagi NKRI. Padahal kita tahu, sebenarnya NU adalah pemilik saham terbesar republik ini. Namun selama ini fakta itu sengaja ditutupi, dipinggirkan,” ujar Ra Baddrut. Karena itu, bagi Ra Baddrut, menulis buku tentang pesantren dalam sudut pandang objektif sama halnya dengan upaya mengembalikan tafsir sejarah yang sesuai dengan porsinya.
 
Agar kader-kader muda pesantren tetap percaya diri menyongsong tantangan zaman, bagi Ra Baddrut, kader harus tetap teguh memegang tradisi dan sanad keilmuan pesantren yang sudah teruji validitasnya. “Ada kecenderungan kalau ingin modern harus melepas basis tradisi kita, hal itu keliru. Menjadi modern itu tetap senantiasa mendialogkan antara tradisi dan segala sesuatu yang baru. Selalu menciptakan sintesis-sintesis baru. Generasi muda pesantren harus tetap optimis bahwa menjadi santri itu bukan hal yang kuno,” jelas Ketua Fraksi PKB DPRD Jatim tersebut.
 
Menurutnya, selama ini ada kekeliruan cara pandang terhadap konsep tradisi. Seolah-olah tradisi itu pasti kuno. Padahal dalam persepektif Al-Jabiri yang dia gunakan dalam buku itu, konsep tradisi bisa dimaknai secara progresif. “Jika kita paham betul dengan hakikat tradisi dan hakikat nalar pesantren. Kita akan mengerti bahwa pesantren itu punya peran strategis dalam upaya menangkal terorisme atas nama agama, pemberantasan penyalahgunaan narkoba, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, sampai ikhtiar menjaga keutuhan NKRI,” kata Wakil Ketua PW Ansor Jawa Timur tersebut.
 
Dr. Rahbini sebagai pembedah mengatakan, buku Ra Baddrut bisa melengkapi buku-buku tentang pesantren yang terbit lebih dulu.“Saya pikir, buku ini menawarkan sesuatu yang baru dalam hal eksplorasi konsep tradisi secara ilmiah. Meskipun bukan karya yang sepenuhnya baru, namun buku ini mampu melengkapi celah dari buku-buku sebelumnya tentang pesantren,” lugas Rahbini.
 
Harapan Rahbini, buku ini dapat dimanfaatkan oleh intelektual muda sebagai bahan referensi dalam membangun kembali peran pesantren dan peran satri. Meletakkan pesantren sebagai bagian dari agen perubahan dan agen pembangunan bangsa Indonesia. [af]


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment