Pandangan Cak Imin Terkait Ancaman Kebhinekaan Indonesia

By fandra 14 Sep 2017, 10:16:19 WIBTokoh

Pandangan Cak Imin Terkait Ancaman Kebhinekaan Indonesia

Keterangan Gambar : istimewa


Surabaya, matahationline.com – Ketua Umum DPP PKB H. Muhaimin Iskandar atau yang biasa disapa Cak Imin tersebut memaparkan pandangannya terkait dengan hal-hal yang dapat mengancam kebhinekaan bangsa Indonesia. Hal tersebut disampaikan Cak Imin dalam acara Diskusi Rabuan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP-Unair) dengan tema “Memperkokoh Politik Kebhinekaan”, Rabu (13/9/2017) di Aula Soetandyo FISIP Unair Surabaya.

Menurut Cak Imin, ancaman kebhinekaan Indonesia ditandai dengan gejala intoleransi agama yang disertai dengan munculnya radikalisme serta fundamentalisme agama yang menguat diberbagai belahan dunia termasuk juga Indonesia. Intoleransi agama tersebut secara tidak langsung mengancam kebhinekaan. Karena itu merupakan tindakan diskriminasi, pengabaian, larangan atau penguatan yang didasarkan pada  agama atau kepercayaan masing-masing.

“Akibat dari intolerasi ini adalah berupa peniadaan atau pengurangan pengakuan hak-hak asasi manusia dan kebebasan mendasar atas dasar kesetaraan,” ungkapnya.

Kasus-kasus intolerasi di Indonesia, kata Cak Imin, pada umumnya didominasi oleh kekerasan, penyerangan, penyebaran kebencian, pembatasan aktivitas keagamaan, dan konflik di tempat ibadah. “Kasus pengeboman, pembubaran acara keagamaan, sweeping tempat-tempat hiburan dan penjual makanan saat bulan ramadhan, itu merupakan contoh dari intolerasi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Cak Imin, Intolerasi agama juga diwarnai dengan munculnya fundamentalisme atau gerakan-gerakan islam transnasional yang menyatakan diri sebagai anti demokrasi dan mengusung ideologi intoleran seperti khilafah dan takfiri. Gerakan-gerakan tersebut di Indonesia cukup tinggi dan dan umat islam yang tertarik dengan gerakan islam transnasional adalah dari kalangan akademisi.

“Ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan tidak sendiri mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang islam, dimana doktrin-doktrin keislaman tidak cukup memadai jika diartikan secara harfiah,” jelasnya.

Diskusi rabuan tersebut diikuti oleh mahasiswa program magister, Wakil Gubernur Jawa Timur  Saifullah Yusuf, Ketua dan anggota DPRD Jawa Timur, anggota DPRD Surabaya dan civitas akademika Fisip Unair.[fc]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment