Pak Halim Dimata Sahabat Lamanya

By Kontributor 20 Sep 2017, 16:40:25 WIBTokoh

Pak Halim Dimata Sahabat Lamanya

Keterangan Gambar : Dari Kiri yg berkaca mata Dra. Ridaryati, Dra. Umi Puji Lestari, Drs. Sugeng Sucipto, Drs. A. Halim Iskandar, M.Pd (Pak Halim), Drs. Agus, Dra. Tri Wahyuni dan Dra. Siti Khusniatun


Surabaya, matahationline.com - Sabtu dini hari, (16/09/2017), adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh Pak Halim, sapaan akrab A. Halim Iskandar, Ketua DPW PKB Jawa Timur sekaligus Ketua DPRD Jawa Timur. Dikarenakan, ia akan bertemu dengan sahabat karibnya, sewaktu kuliah S1 IKIP Jogjakarta (Sekarang dikenal UNY) Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan tahun 80an.

Saking semangatnya, Pak Halim berangkat ke Stasiun Gubeng jam 00.00 WIB. Padahal keretanya baru sampai jam 01.30 WIB. Untuk sekedar melepas kantuk. Seperti biasa, warung kopi yang menjadi jujukannya. Soalnya, ia harus berada di bandara pukul 06.00 WIB, untuk menyambut Menristekdikti, Muhammad Nasir. Sedianya, Menristekdikti dan Pak Halim akan menghadiri Raker Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VII Jatim, di Hotel Majapahit Surabaya.

Pukul 01.30 WIB tepat, kereta yang ditunggu tiba di Stasiun Gubeng. Kemudian, Pak Halim menuju ke pintu kedatangan. Sama halnya waktu kita bertemu sahabat lama. Pak halim meluapkan rasa kangennya, dengan saling sapa dan bercanda. Lagi-lagi, Ia mengajak sahabat-sahabatnya untuk ngopi, sambil menceritakan kenangan masa lalu.

"Ayo ndang melbu mobil. Engko kamu iso-iso ilang. Kene wes tuwek (ayo cepat masuk mobil, nanti kamu bisa-bisa hilang, kita itu sudah tua)," kata pak halim ke sahabatnya.

"Iyo yo. Tibakno kene wes tuwek (Iya ya, ternyata kita sudah tua)," sahut Sugeng Sucipto, salah salah seorang temannya dari Kebumen. Yang kemudian disambut tawa oleh sahabat-sahabatnya.

Dalam pertemuan kali ini, yang bisa dibisa dibilang reuni “kecil-kecilan”. Hadir sahabat karibnya, diantaraya Dra. Ridaryati, Dra. Umi Puji Lestari, Dra. Tri Wahyuni,  Dra. Siti Khusniatun dan Drs. Sugeng Sucipto. Kemudian menyusul keesokan harinya Drs Agus.

“Kita sudah lama gak ketemu, pengenya ketemu tapi Nanang (panggilan Pak Halim) sibuk. Makanya kita yang datang ke Surabaya,” ucap salah satu sahabatnya ke sopir yang mengantar mereka.

“Terakir ketemu Nanang di jogja, sudah lupa kapan tahunnya. Seingatku, waktu Muhaimin (adik Pak Halim, yang juga Ketua Umum DPP PKB) masih jadi menteri,” lanjutnya. .

 Giliran Ibu Tri Wahyuni menimpali cerita dengan kenangan masa lalunya dengan Pak Halim.

“Dulu, ia ngekos di Gubuk Penceng. Satu kos dengan muhaimin. Sering saya masakan kangkung, tetapi sekarang sudah tidak mau dianya,” Ucapnya.

“Maaf ya, saya manggilnya tidak pakai pak atau gus. Cukup nanang saja. Soalnya dia paling muda diantara kita. Disamping itu beliau Junior dalam hal belum punya cucu. Hehehe,” lanjutnya Ibu Tri sambil menahan tawa.

Tak mau kalah, Ibu Umi Puji  Lestari, juga menambahkan kenangannya bersama Pak Halim.

“Dulu, Nanang itu memakai Motor Yamaha 75. Pernah suatu waktu saya tanya, mana motormu? Nanang hanya tersenyum,” ucapnya.

Dia melanjutkan, “Nanang itu orangnya grapyak (mudah bergaul). Makanya banyak sahabat-sahabatnya. Tetapi nakalnya tidak umum dan super. Beda dengan adeknya (A. Muhaimin Iskandar) yang pendiem,” sontak semua sahabatnya mengiyakan perilaku masa lalu Pak Halim.

“Dulu nanang tidak kayak begini, rambutnya panjang, tubuhnya kurus. Apalagi kalau tanggal tua. Waduh kasihan, kayak kebingungan dan kelimpungan orangnya,” tawa pun kembali pecah di reuni kecil-kecilan itu.

Ceritapun berlanjut. Menurut Ibu Siti Khusniatun, dahulu Pak Halim mempunyai sahabat dekat. Namanya Ubaidillah dari cirebon. Sayang, kali ini ia tidak bisa mengikuti acara ini. Mereka seperti dikenal pasangan, yang kemana-mana selalu bersama. Disamping sama-sama aktif organisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Perlikunya pun juga sama-sama anehnya. Ciri khasnya mereka berdua yakni selalu telatan (Terlambat mengikuti kuliah).

“Meskipun selalu terlambat, mereka selalu duduk baris di depan. Tepat didepan bangku dosen,” sambung bu Siti.

“Masuk kelas membawa buku atau catatan. Tetapi tidak ada coretan apapun di bukunya. Jadi Setiap ujian baru menyalin catatan ke sahabat-sahabatnya untuk belajar. Namun, pinternya diatas rata-rata mereka,” Ujarnya sambil mengelengkan kepala.

Pak Agus, lalu memotong pembicaraan mereka.”Ini traktiran nanang, yang dulu sering pinjam catatan sebelum ujian,” disambut ketawa semuanya.

Malam pun berlanjut, ketika Bu Umu, menanyakan masalah nama sesungguhnya Abd. Halim Iskandar.

Jeneng aslimu sopo toh? Halim atau Nanang (Nama asalmu itu siapa sih? Halim Atau Nanang),” ucap Bu Umi.

Pak Halim menjawab pertayaan tersebut  dengan cerita.

“Dulu ada yang mencari saya kerumah. Ada yang namanya Pak Halim, tanya orang yang mencari. Dijawab oleh ibu saya, loh gak ada, Halim iku disana. (Sambil menunjuk tetangga dekat rumah yang nama pemiliknya Halim). Jangankan kamu, Ibuku saja lupa kalau namaku Halim. Padahal jelas di ijasah A. Halim Iskandar,” lantas tertawa semua sahabatnya.

Satu lagi sahabatnya, Ibu Ridaryatu,  bisa dibilang sahabat istimewa. Karena, ia juga temen satu Kuliah Kerja Nyata (KKN), istri dari Pak Halim, Dra. Lilik Umi Nashiah, M.Pd.

“Waktu KKN dulu, saya tidak tahu, kenapa Mbak Lilik sering menanyakan tentang Nanang. Ternyata…,” beliau tidak melanjutkan ceritanya, ia hanya tertawa selanjutnya.

Pak agus juga tidak ingin kalah dengan sahabat yang lainya, mengenai masa lalunya dengan Pak Halim.  

Dengan nada yang serius, Pak agus berujar,

“Pak nanang ini sudah dari dulu kelihatan, kalau mau menjadi orang,” maksudnya pak halim akan sukses dan menjabat jabatan strategis.

Belum selesai Pak Agus bercerita. Pak halim menimpali dengan nada bercanda,

"Lek gak dadi wong, dadi opo? (Kalau tidak jadi orang, jadi apa?),” tertawalah sahabat-sahabatnya akibat jawaban Pak Halim tersebut.

Begitulah, suasana yang terjadi di “Reuni Kecil-kecilan” Pak Halim dan sahabat-sahabatnya.  Canda tawa mengiringi perjumpaan mereka, mengenang masa lalu sewaktu kuliah S1 IKIP Jogjakarta tahun 80an. “Reuni Kecil-kecilan” tersebut berakhir di Jombang. Setelah mereka bersama-sama sowan ke dalem ibunda Pak Halim di Komplek Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar. [mwh]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Music 09 Des 2017, 21:00:24 WIB

    <a href="http://cialiseprofessional.ru/">how long does cialis professional last</a> <a href="http://onlinecanadianepharmacy.ru/">can adian pharmacy no prescription</a> <a href="http://rhineincecialis.ru/">RW Rhine Inc</a> <a href="http://cialisonlineenoprescription.ru/"> ;36 hour cialis online</a> <a href="http://cialiscanadae.ru/">cialis online canada</a> <a href="http://cialisewithoutadoctorsprescription.ru/&q uot;>no prescription cialis</a> <a href="http://rxexpresseonline.ru/">pharmacy rx one viagra</a> <a href="http://amoxicillinbuyecanada.ru/">buy amoxicillin without prescription uk</a> <a href="http://tadalafilbesteprice.ru/">tadalaf il for sale</a> <a href="http://levitrawithouteprescription.ru/"> ;levitrawithouteprescription.ru</a>

View all comments

Write a comment