Narasumber Diskusi Panel, Anik Maslachah Sampaikan Ancaman Radikalisme Kaum Milenial

By Kontributor 20 Okt 2019, 14:01:30 WIBPendidikan

Narasumber Diskusi Panel, Anik Maslachah Sampaikan Ancaman Radikalisme Kaum Milenial

Keterangan Gambar : Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur Anik Maslachah saat memberikan materi acara Diskusi Panel Nasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa


matahationline.com – Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur Anik Maslachah berkesempatan menjadi pemateri/narasumbber Diskusi Panel Nasional di Kampus Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Surabaya dalam acara Pekan Kewarganegaraan 2019. Diskusi yang berlangsung sekitar 2 jam itu, Anik menyampaikan ancaman radikalisme untuk kaum milenial.

Pasalnya, indeks kerentanan radikalisme di Indonesia berada di titik rawan, yaitu 43,6 dari slaka 0 (anti radikal sempurna) – 100 ( pro radikalisme sempurna). Dari data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mudah terpapar ideologi radikal, terlebih lagi kelompok milenial yang tak lain adalah golongan anak muda. Bahkan secara mengejutkan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) menyebutkan jika 2,7 juta orang Indonesia terpapar paham radikal.

“Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan dan menjadi ancaman bagi keutuhan bangsa Indonesia, Pancasila sebagai falsafah negara,” ungkap Ketua Perempuan Bangsa Jawa Timur itu, Minggu (20/10/2019)

Anik menyampaikan bahwa ada sektiar 10-12 jaringan inti teroris yang saat ini berkembang di Indonesia. Jaringan tersebut kemudian bertransformasi menjadi jaringan sel-sel kecil masuk di tengah masyarakat, termasuk di kalangan milenial. Doktrin dan kegiatan sel-sel organisasi teroris ini berbungkus agama dan mengikuti tren anak muda dengan gerakan smooth.

“Oleh karenanya, mahasiswa harus berfikir kritis dengan referensi narasi keilmuan yang dimiliki untuk mengkritisi gerakan ini. Dengan sikap kritis itu tidak akan mudah didoktrin untuk masuk dalam golongan mereka,” ungkapnya

Gerakan radikal dan aksi terorisme tersebut merupakan gerakan politik yang ingin menguasai Indonesia dengan mengubah sistem pemerintah yang sudah sah. Mahasiswa sebagai kelompok milenial harus bisa menyadari hal tersebut sehingga tidak mudah diperalat oleh kelompok radikal.

Cara sederhananya adalah mahasiswa dan generasi milenial tidak bolah buta politik dan harus paham politik, utamanya politik kebangsaan dan geopolitik. Politik kebangsaan menekankan persatuan dan kesatuan dalam perbedaan berbangsa dan bernegara. Sadangkan geopolitik sebagai alat analisis bagaimana pertarungan ideologi, ekonomi dan politik antar negara untuk menguasai suatu negara.

 “Semua yang menyangkut hajat hidup orang banyak tergantung pada keputusan politik,” pungkas politisi Jatim asal Sidoarjo itu.[rt]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment