Kasus Zaini Misrin, Jadi Alasan Cak Imin Dulu Ingin Memoratorium Penempatan TKI ke Saudi

By Kontributor 20 Mar 2018, 10:20:47 WIBKetenagakerjaan

Kasus Zaini Misrin, Jadi Alasan Cak Imin Dulu Ingin Memoratorium Penempatan TKI ke Saudi

Keterangan Gambar : Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar


Jakarta, matahationline.com – Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengungkapkan alasan-alasan mengapa dirinya dulu waktu menjadi menteri tenaga kerja dan transmigrasi ingin melakukan moratorium penempatan TKI ke Arab Saudi. Salah satu alasannya adalah karena apatisnya pemerintah Saudi  terkait kebijakan diplomatis untuk Indonesia, seperti kasus eksekusi mati Zaini Misrin TKI asal Bangkalan, Madura Jawa Timur.

Cak Imin menceritakan bahwa kasus Zaini sudah berlangsung sejak 2004 silam. Berbagai cara dan upaya pemerintah Indonesia telah dilakukan untuk membebaskan Zaini dari hukuman mati. "Kasus ini telah ada sejak 2004. Pendampingan dan advokasi dilakukan. Ketika saya menjadi Menakertrans, kita juga telah bersurat kepada raja, mengirimkan nota diplomatik, lobby, menyediakan penterjemah, visit berkali-kali ke penjara, dan berbagai upaya lainnya. Pak Jokowi pun begitu. Tapi masih gagal," kata Cak Imin, Senin (19/3/2018).

"Paham kan mengapa saya memoratorium penempatan TKI ke Saudi sejak 2011? Paham kan sekarang? Memang ada perbedaan kultur, politik dan sistem hukum yang terlalu njomplang antara kita dan mereka. Belum lagi TKI kita yang ke sana mayoritas low skill. Jadi rentan dan rapuh dalam situasi negara yang peradabannya, yah seperti itulah," sambung pria yang digadang-gadang maju sebagai Cawapres 2019 itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keinginannya untuk melakukan moratorium penempatan TKI ke Saudi bukan sebuah keputusan yang hanya ingin dibilang sok membela TKI, namun tindakannya tersebut sudah diperhitungkan dengan matang. "Moratorium penempatan TKI Rumah Tangga ke Saudi itu sudah saya kalkulasi betul. Bukan buat gagah-gagahan, atau sok heroik. Mestinya diteruskan menjadi penutupan permanen oleh pemerintah saat ini. Biar TKI yang middle dan high skill saja yang ditempatkan," terangnya.

Kasus penangkapan Zaini ternyata oleh pihak pemerintah Arab Saudi tidak melakukan pemberitahuan terlebih dahulu Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). Hal tersebut membuat Cak Imin kecewa. “KJRI Jeddah juga saat Zaini ditangkap mengaku tidak mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan dari Otoritas Saudi. Mereka (Otoritas Saudi) memang saat itu tidak mau menandatangani MCN (Mandatory Consular Notification). Mereka enggak terikat kewajiban menginfokan kepada kita apa yang terjadi pada warga kita di sana. Ini sikap politik yang tidak bersahabat, tidak setara dari Saudi kepada Indonesia. Ini belum tuntas makanya penutupan permanen jadi masuk akal,” katanya.

Karena itu, ia kecewa kepada Raja Salman karena tidak mengindahkan hubungan baik yang selama ini dibangun oleh Pemerintah Indonesia. Terutama saat Raja Salman dan rombongannya datang ke Indonesia disambut megah oleh Presiden Jokowi.[rc]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment