Gelar Rakernas, Fatayat NU Kampanyekan STOP Perkawinan Anak

By Kontributor 05 Mei 2017, 16:37:31 WIBSosial Budaya

Gelar Rakernas, Fatayat NU Kampanyekan STOP Perkawinan Anak

Keterangan Gambar : Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU), menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.


PALANGKARAYA, Matahati Online – PP Fatayat NU menolak keras praktik perkawinan anak yang masih marak terjadi di penjuru Indonesia. Hal ini dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PP Fatayat NU yang salah satu tujuannya adalah merespon isu-isu aktual. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus Fatayat NU di tingkat provinsi ini, menunjuk Negara ikut bertanggung jawab dalam tingginya angka perkawinan anak di Indonesia.

“PP Fatayat NU saat itu ikut hadir di Mahkamah Konstitusi dalam rangka pengajuan pendewasaan usia perkawinan”, ungkap Anggia Ermarini Ketua Umum PP Fatayat NU, 5 Mei 2017.

Menurut UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2012, menyebutkan mereka yang belum berusia delapan belas tahun adalah masuk kategori anak/remaja. Dan data Riset Kesehatan Dasar 2015 menunjukan, angka pernikahan usia dibawah 19 tahun sebesar 46,7 persen, dan pernikahan di kelompok usia 10 – 14 tahun sejumlah hampir 5 persen. Angka ini menunjukan kewajaran jika Indonesia masuk kategori Negara tertinggi di dunia yang memiliki jumlah pernikahan anak terbanyak.

“Dampak perkawinan anak tidak hanya secara biologis pada kesehatan reproduksi perempuan, tetapi juga dampak psikis yang juga berakibat pada permasalahan-permasalahan sosial lainnya, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, kemiskinan, sampai pada kasus trafficking,” lanjut Anggi yang juga memiliki background pendidikan Kesehatan Masyarakat.

Selain itu, angka kematian Ibu melahirkan di Indonesia juga masih tergolong tinggi, yaitu 305 jiwa untuk 100 ribu kelahiran. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyebutkan bahwa salah satu faktor pendorong tertinggi dari AKI (Angka Kematian Ibu) yaitu 48 persen adalah menikah muda dan hamil pada usia di bawah 20 tahun.

“Kita harus gerakan seluruh kader Fatayat NU yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mengkampanyekan secara aktif dan masif STOP pernikahan anak,” ajak perempuan yang telah aktif di gerakan sosial sejak mahasiswa ini.

Diketahui, Kader Fatayat NU tersebar di seluruh Indonesia, yakni di 34 Provinsi, 480 cabang atau setingkat Kabupaten/Kota, 2000 PAC atau tingkat kecamatan, dan 21.000 ranting atau tingkat Desa.

“Negara juga harus bertindak tegas, segera atur usia pendewasaan perawinan ke dalam Undang-Undang, beri sanksi kepada aparat negara yang ikut membantu pelaksanaan proses perkawinan anak,” tutup Anggia Ermarini dengan tegas.

Sumber: Radarbangsa.com



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment