Di Simposium Anti-PKI, AJI Kecam FPI yang Intimidasi Jurnalis

By 03 Jun 2016, 15:28:48 WIBHukum

Di Simposium Anti-PKI, AJI Kecam FPI yang Intimidasi Jurnalis

Keterangan Gambar : Sejumlah jurnalis aksi demonstrasi mendesak pihak yang memperberat mereka dalam melaksanakan tugas. (Foto: Viva)


Surabaya, Matahationline.com - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam pengusiran dan intimidasi yang dilakukan sejumlah orang kepada wartawan Rappler.com, Febriana Firdaus, saat meliput Simposium Nasional bertema “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain” di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Ketua AJI Jakarta Ahmad Nurhasim menegaskan, pengusiran yang dilakukan beberapa orang beratribut Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Bela Negara itu dinilai mengancam kebebasan pers dan nilai-nilai demokrasi. “Tindakan mereka melanggar Undang-Undang Pers,” katanya dalam rilis AJI Jakarta yang diterima Matahationline.com, Jumat (3/6/2016).

Pengusiran terhadap Febriana, kata Nurhasim, bukan tidak mungkin bisa menimpa jurnalis lainnya. Oleh sebab itu Nurhasim menganjurkan jika ada pihak yang dirugikan atas pemberitan seharusnya melaporkan ke Dewan Pers. "Bila ada pihak yang keberatan dengan pemberitaan, dapat mengajukan hak jawab dan hak koreksi ke redaksi atau adukan ke Dewan Pers. Itu cara sah yang diatur undang-undang di negara demokrasi," ujar Hasim.

Kronologi intimidasi dan pengusiran ini terjadi saat Febriana mewawancarai aktivis dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Para aktivis ini datang ke lokasi simposium karena keberatan logo organisasi mereka dicatut panitia simposium.

Ketika wawancara berlangsung, seorang laki-laki bersurban putih beratribut FPI mendatangi Febriana dan menghardik, “Ini Febriana. Ini dia yang kerap bikin berita ngawur.”  

Sesaat kemudian, beberapa laki-laki bersurban lain dan pria beratribut Gerakan Bela Negara belakangan ikut mendatangi Febriana. Seorang panitia dari Gerakan Bela Negara yang diwawancarai Febriana bahkan melarang jurnalis itu menulis soal pencatutan logo PMKRI. Dengan nada mengancam, panitia tersebut menunjuk-nunjuk ke arah Febriana dengan mengatakan, “Anda sudah difoto dan sudah direkam. Kalau berita itu dimuat, Anda bisa ditangkap.”

Tak lama setelah itu, kerumunan semakin membesar dan bahkan semakin bersemangat memarahi Febriana. Mereka mengaku tidak suka dengan berita tentang mereka yang dimuat Rappler.com. Cercaan dan makian berkali-kali diarahkan kepada Febriana. Intimidasi terus berlanjut dan puncaknya mereka mengusir Febriana dari Balai Kartini.

Menurut AJI Jakarta, intimidasi dan pengusiran atas Febriana jelas-jelas telah melecehkan profesi jurnalis. "Pers dan jurnalis berhak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi," tutur Hasyim.
 
Dalam UU Pers, dijelaskan pula bahwa pers berperan menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan. Pers juga mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, mengawasi hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran. [hwo]


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment