Cabai Mahal Ulah 9 Bandar?

By Kontributor 07 Mar 2017, 12:36:34 WIBEkonomi

Cabai Mahal Ulah 9 Bandar?

Keterangan Gambar : Ilustrasi


JAKARTA, Matahati Online – Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia telah menetapkan dua tersangka pelaku kartel harga cabai rawit merah dengan menetapkan harga di atas ketentuan yang di tetapkan pemerintah berdasar Permendag No 63 Tahun 2016 yang seharusnya Rp 29.000 per Kg.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman angkat bicara terkait hal tersebut. Menurutnya, permainan harga cabai ini membuat harga di pasaran melambung tinggi. Untuk itu, Amran berharap agar Bareskim membongkar praktik ini sampai tuntas.

"Ada tersangka masalah cabai, dia menyimpan. Kartel cabai kami sudah koordinasi kami minta ini di tindak tegas jangan diberi ampun seperti kemarin ada oplos pupuk dan beras, sekarang oplos cabai. kami minta di bongkar sampai akar-akarnya," kata Menteri Amran di Kantornya, Jakarta, Senin (6/3).

Permainan kartel harga ini juga dilakukan oleh perusahaan cabai swasta yang bekerja sama dengan pedagang. Menurutnya ini tindakan yang memalukan yang tidak bertanggung jawab. Untuk menghindari permainan harga, pihaknya bersama dengan Kepolisian telah bekerjasama untuk menuntaskan kasus kartel seperti ini.

"Saya minta di bongkar sampai akar-akarnya seperti dulu pupuk. dulu oplos beras sudah tertangkap, sekarang ini cabai lagi, ini orang yang enggak tanggung jawab gak mengasihani bangsanya sendiri ini tidak benar. Kami kerjs keras, dia main-main di belakangnya, kami minta dibongkar dan tuntas. kami sudan sinergi dan MoU dengan polisi," pungkas Amran dengan nada keras.

Sebelumnya Kasubdit Industri dan Perdagangan, Kombes Hengky Haryadi membeberkan, pengepul cabai rawit merah yang secara bersama-sama bersepakat menetapkan harga. Caranya dengan menjual cabai rawit merah kepada perusahaan-perusahaan pengguna cabai rawit merah.

"Sehingga cabai yang seharusnya dinikmati konsumen dipaksa beralih distribusinya ke perusahaan-perusahaan pengguna cabai rawit merah dan berimbas pada kenaikan harga di tingkat konsumen," kata Hengky di gedung Bareskrim, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (3/3).

Hengky menjelaskan, pola seperti ini mengakibatkan kelangkaan pasokan cabai rawit merah di tingkat konsumen yang berimbas tingginya harga. Polisi sudah menetapkan dua tersangka dengan inisial SJN dan SNO yang berasal dari Solo. Keduanya melanggar UU RI No 5 Tahun 1999 tentang larangan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dan UU RI No 7 Tahun 2014 tentang perdagangan.

Dari penyidikan polisi, ada penyimpangan alur cabai ini yang seharusnya dibawa ke Kramat Jati tetapi justru berbelok ke beberapa perusahaan. Kemudian, sistem antara petani pengepul dan pedagang besar ada konsinyasi.

"Ini dugaan kami harga menjadi tinggi karena dijual tinggi ke beberapa perusahaan ini tapi ini sifatnya masih pemeriksaan, namun hubungan sebab akibatnya kita sudah temukan sejak awal Januari. Sejak bulan Desember produksi mereka naik. Yang biasanya mereka (perusahaan) impor, mereka tidak puas dengan yang impor ini karena ada yang lokal sehingga mereka mengambil cabai yang ada di petani Indonesia," terang Hengky.

Saat ini pihaknya telah mengantongi beberapa nama perusahaan tersebut. Namun masih belum bisa diungkapkan. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa jumlah tersangka kemungkinan akan terus bertambah seiring proses penyelidikan yang terus dilakukan.

Selain itu, Kementan juga menyebut ada 9 bandar besar yang menguasai pasar cabai Tanah Air. Mereka bisa mengatur atau membuat harga melambung tinggi.

Sumber: merdeka.com

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment