Anggota Fraksi PKB Jatim Menjaga Tradisi Umat: Maulid-an

By Kontributor 18 Nov 2019, 01:11:49 WIBDunia Islam

Anggota Fraksi PKB Jatim Menjaga Tradisi Umat: Maulid-an

Keterangan Gambar : Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW


matahationline.com – Anggota Fraksi PKB Jawa Timur konsisten dengan komitmen kepartaianya, yaitu merawat tradisi islam ahlussunnah wal jamaah, salah satunya adalah dengan cara ikut merayakan Kelahiran Nabi Muhammad SAW, atau yang lebih dikenal dengan sebutan maulid-an. Maulid-an di Indonesia utamanya untuk masyarakat islam yang ada di Jawa dan Madura sudah menjadi tradisi yang mengakar di masyarakat. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal masyarakat sudah terbiasa mengagendakan perayaan maulid nabi. Bahkan, masyarakat di desa-desa merayakan tradisi tersebut 1 bulan penuh dengan bergantian dari satu rumah ke rumah yang lain.

Anggota Fraksi PKB Jawa Timur yang tampak ikut merayakan Maulid-an bersama warga diantaranya adalah ada Syamsul Arifin. Pria yang biasa disa Mas Sam itu merayakan maulid nabi bersama warga Surabaya, yang tak lain adalah konstituennya.

Aliyadi Mustofa, Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur itu merayakan maulid-an bersama masyarakat Madura. Ubaidillah, politisi muda PKB Jawa Timur itu juga bersama-sama masyarakat Desa Sumberwringin Bondowoso merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan juga Ahmad Athoillah, legislator milenial itu juga merayakan maulid nabi bersama dengan konstituennya di Desa Kedawong Jombang.

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya.

Tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan bersama-sama masyarakat.[cr]



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment